Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Kepolisian Myanmar Tangkap Biksu Radikal Wirathu karena Menyebarkan Paham Anti-Islam


Kepolisian Myanmar Tangkap Biksu Radikal Wirathu karena Menyebarkan Paham Anti-Islam - Kepolisian Myanmar akan menangkap biksu radikal yang bernama Wirathu karena ceramah tentang pemahaman anti-Islam yang disampaikannya. Perkataan Wirathu dianggap memprovokasi kekerasan dan pembantaian terhadap warga Muslim Rohingya di Rakhine.

Menurut juru bicara kepolisian Myanmar Myo Thu Soe kepada AFP, Selasa (28/5), surat penangkapan telah dikeluarkan terhadap Wirathu. Dia dianggap melanggar pasal 124 soal kebencian.

Myo tidak menyebutkan detail alasan penangkapan Wirathu, namun pasal di atas berisi larangan


"percobaan memantik kebencian atau penghinaan, atau mendorong ketidakpuasan terhadap pemerintah". Hukuman dalam pasal ini adalah maksimal tiga tahun penjara.


Belum diketahui keberadaan Wirathu saat ini. Namun biksu berusia 50 tahun itu sempat tinggal di kuil kota Mandalay.

Wirathu dalam ceramahnya dianggap memprovokasi kekerasan terhadap umat Muslim Rohingya. Dia juga menyerukan kebencian terhadap warga Muslim, termasuk memboikot bisnis umat Islam dan larangan menikahi mereka.

Karena pemahaman nya yang bersifat radikal, Wirathu dijuluki sebagai "Buddhis bin Laden". Pada 2013, wajahnya muncul di sampul depan majalah Time dengan judul besar "Wajah Teror Budhis". Pada tahun 2018 Facebook menutup akun facebook milik Wirathu yang dianggap memprovokasi kekerasan.

Menurut berbagai lembaga HAM, ceramah Wirathu memicu bentrokan antara warga Rohingya dan Buddha Rakhine. Ujungnya adalah penyerangan desa-desa Rohingya oleh aparat dan warga, menewaskan 10 ribu orang, dan membuat 740 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Wirathu

Dewan biksu senior sempat melarang Wirathu untuk berceramah di muka publik. Ketika larangan dicabut, dia langsung berceramah di acara militer pada Maret tahun lalu.

Pembantaian, pemerkosaan, dan pembakaran rumah-rumah Rohingya membuat PBB menyebutnya sebagai upaya genosida. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah melakukan pemeriksaan atas kejahatan tersebut. Menanggapi hal itu, Wirathu malah menantang.

"Hari di mana ICC datang ke sini, adalah hari Wirathu memegang senapan," kata Wirathu Oktober tahun lalu.
Daniel Dwi Adrian
Seorang pria yang suka dengan sejarah dan juga internet, tertarik pada ideologi, politik, dan militer.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter