Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Sejarah Perang Agresi Milliter Belanda 1 dan 2



Sejarah Perang Agresi Milliter Belanda 1dan 2 - Agresi Militer yang dilakukan belanda adalah konflik militer antara indonesia dengan belanda terbesar dalam sejarah indonesia, Agresi ini dilancarkan belanda untuk kembali menduduki negara bekas jajahan nya yaitu indonesia.

Konflik militer ini terjadi Pada 21 Jul Tahun 1947 -Sampai 1948 yang menewaskan lebih dari 156,200 korban jiwa, Perang ini dipimpin oleh Untuk Indonesia dipimpin oleh Jenderal Besar Soedirman dan untuk belanda ini dipimpin oleh Simon Spoor.

Latar Belakang Agresi Militer Belanda 1 dan 2

Tujuan utama dari agresi Belanda adalah untuk kembali menguasai daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak.

Namun sebagai kedok untuk menutupi keburukan nya dari dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri.

Terjadinya Perang Agresi Milliter Belanda 1 dan 2



Dimulai tahun 21 Juli Tahun 1947 saat pasukan belanda yang datang menerobos ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat itu belanda memfokuskan tiga daerah, dikarenakan mereka kewalahan karena kurang nya personel tentara, Daerah tersebut adalah Sumatra Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada agresi militer pertama ini, Belanda mengerahkan dua pasukan khusus, yaitu Korps Speciale Troepen (KST) di bawah Westerling yang kini berpangkat Kapten, dan Pasukan Para I (1e para compagnie) di bawah Kapten C. Sisselaar. Pasukan KST (pengembangan dari DST).

Agresi militer Belanda pertama ini berhasil merebut daerah-daerah penting dan kaya di wilayah Republik Indonesia seperti kota pelabuhan, perkebunan dan pertambangan.

Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura, sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Pesawat Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo.

Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer yang dilakukan oleh Belanda ke ranah PBB, dengan alasan agresi militer tersebut dinilai telah melanggar perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggarjati.

Belanda ternyata tidak memperhitungkan reaksi keras dari dunia internasional, termasuk Inggris, yang tidak lagi menyetujui penyelesaian secara militer. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda Dewan Keamanan PBB.

PBB langsung merespons dengan mengeluarkan resolusi tertanggal 1 Agustus 1947 yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan. PBB mengakui keberadaan Republik Indonesia dengan menyebut nama “Indonesia”, bukan “Netherlands Indies” atau “Hindia Belanda” dalam setiap keputusan resminya.



Kedua pihak pun yaitu Indonesia dan Belanda mensetujui adanya ajakan Genjatan Senjata dari PBB

Agresi Militer Belanda 2


Namun Genjatan Senjata tersebut dilanggar oleh Belanda, yang malah semakin memperkuat Kekuatan tentara nya diindonesia, dan Pada 19 Desember 1948 Belanda melancarkan niat busuk nya kepada Republik Indonesia lewat operasi Militernya yaitu Agresi Militer Belanda 2 atau bisa disebut juga Operatie Kraai Dalam bahasa belanda.


Operasi Militer Belanda  ini diawali dengan serangan terhadap daerah Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka melakukan serangan nya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta.

PBB mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak mengontak diplomatik dapat diadakan.

Sementara itu Soedirman bersama Pasukan nya meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya dari luar kota. Perjalanan bergerilya selama delapan bulan ditempuh kurang lebih 1000 km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tidak jarang Soedirman harus ditandu atau digendong karena dalam keadaan sakit keras. Setelah berpindah-pindah dari beberapa desa rombongan Soedirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949. Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat

1 Salah satu pokok isinya ialah: 

Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas. Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah pasukan Siliwangi.

Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat terpaksa pula menghadapi segerombolan para pemberontak DI/TII.

Akhir Dari Agresi Milliter Belanda 1 dan 2

Setelah melalui berbagai polemik yang berpuncak pada Serangan Umum 1 Maret 1949 dan semakin membuka mata dunia bahwa Indonesia masih ada dan sanggup berdiri sendiri sebagai negara merdeka, Kerajaan Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI secara penuh pada 27 Desember 1949.

Sumber :

Daniel Dwi Adrian
Seorang pria yang suka dengan sejarah dan juga internet, tertarik pada ideologi, politik, dan militer.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter