Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Inilah Kenapa Pada Jaman G30SPKI 1965 di Jawa Barat Tidak Ada Kasus Pembantaian


Inilah Kenapa Pada Jaman G30SPKI 1965 di Jawa Barat Tidak Ada Kasus Pembantaian - Pada tahun 1965 kejadian G30S mengemparkan negara, suasana sangat mencekam karena adanya beberapa pembantaian di berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya di kota-kota besar saja bahkan di pulau-pulau kecil juga terjadi. Namun ada keajaiban pada masa itu ada satu kota yang tidak mengalami pembantaian yaitu Jawa Barat. Padahal konon terjadi banjir darah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Benedict Anderson

Rupanya hal ini terjadi karena perintah dari Mayor Jenderal Ibrahim Adjie. Seperti yang diceritakannya kepada Benedict Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell, Amerika Serikat pada saat mereka bertemu pada tahun 1968. Kutipan dari Majalah Tempo edisi 1 Oktober 2012 menjelaskan itulah rahasinya kenapa di Jawa Barat tidak ada pembantaian pada tahun 1965 dan tahun 1966

Panglima Komando Daerah Militer VI Siliwangi itu menegaskan,

"Saya sudah kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang-orang ini ditangkap diamankan, tapi jangan sampai ada macem-macem." Ibrahim dan Anderson bertemu pada 1968.

Meskipun tidak ada pembantaian bukan berarti pembunuhan di Jawa Barat bukan tak terjadi. Di Indramayu, ada korban orang biasa yang dicurigai sebagai anggota PKI. Namun tidak berkembang menjadi pembantaian karena rupanya semua bawahan Ibrahim sampai level paling bawah patuh kepada perintahnya. "Saya tidak ingin ada pembantaian di Jawa Barat, karena merasa bagaimanapun sebagian besar adalah orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka dibunuh,"Begitu pendapat Panglima Komando Daerah Militer VI Siliwangi yang berhati mulia itu.

Jenderal Ibrahim Adjie

Keputusan ini juga diambil karena kesetiaannya kepada Presiden Soekarno. Sebagai bawahan ia patuh dan tertib kepada pimpinan. Karena pada tanggal 1 Oktober itu , Soekarno mengeluarkan mengeluarkan perintah agar semua pihak menghentikan aksi agar suasana tak runyam. Namun kenyataannya tidak semua patuh kepada perintah Presiden. Bahkan pada hari yang sama, Soekarno mengirimi Ibrahim sepucuk surat yang isinya meminta Ibrahim datang ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma jika keselamatan Presiden terancam.

Mungkin Soekarno sudah memiliki firasat buruk tentang hal ini. Bahkan beliau memerintahan Ibrahim untuk melindungi anak-anak dan keluarganya saat suasana sedang rawan. Rupanya presiden juga mencemaskan keluarganya. Dan beliau yakin bahwa Jenderal Ibrahim adalah orang yang tepat dan dapat dipercaya untuk menjaga keselamatannya.


tirto.id

Satu hari setelah itu pimpinan Sementara Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto melapor kepada Sukarno bahwa situasi dapat dikuasai. Dalam surat yang ditulis tangan pada 2 Oktober 1965, Soeharto mengirimkan surat bawah dia sudah dapat menguasai keadaan dengan baik. Namun di kemudian hari surat tersebut tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena kenyataannya di berbagai daerah yang didatangi satuan elite militer Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), terjadi pertumpahan darah yang brutal.

 "Dalam banyak kasus, pembunuhan dimulai setelah kedatangan kesatuan elite militer, yang lalu memerintahkan dan memberi contoh tindakan kekerasan," kata Cribb dalam buku Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966. Jawa Barat beruntung: RPKAD tak merangsek di sana. Alhasil, kata Anderson, “Di Jawa Barat tak terjadi pembantaian.
Daniel Dwi Adrian
Seorang pria yang suka dengan sejarah dan juga internet, tertarik pada ideologi, politik, dan militer.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter